The Mandailing People The Mandailing people live on the west coast of Sumatra island, where they were traditionally engaged in padi-planting, buffalo-herding and gold-mining. A rich mythology surrounds their origins, but historical record is scant, dating from the 14th century. Mandailing society is organised according to Dalihan na Tolu (the
confluence of three). This refers to the kinship system based on marga
(clans), who are bonded together through marriage and by the principle
of Olong Dohot Domu (love and companionship). Mandailing governance is
fiercely democratic and egalitarian. Na Mora Na Toras (the council of
nobles and elders) ensures justice and dynamic leadership. The Gordang
Sambilan are the ceremonial drums that heralded war, marriages,
installations and funerals. During such ceremonies, the Sabe-Sabe
ceremonial shawls are worn and Tor-Tor (dance) is performed. Mandailing
society, culture and economy is based on agriculture, reflected in its
human-made landscape of terrace padi fields and an ingenious irrigation
system. (http://www.mandailing.org/) | Orang Mandailing bertempat tinggal di pendalaman pesisir pantai barat pulau Sumatra dengan sistem pemerintahan tradisional, tradisi persawahan, pengembalaan kerbau, penambangan mas, persenjataan dan perairan. Kaya dengan mitologi asal-usul marga, Mandailing tercatat dalam kita Nagarakertagama pada abad ke 14, namun sulit mendapatkan catatan sejarah mengenai mereka. Tanah ibunda Mandailing dibagi kepada Mandailing Godang dan Mandailing Julu. Masyarakat Mandailing diatur dengan menggunakan sistem sosial Dalian na Tolu (Tumpuan Yang Tiga) - merujuk kepada aturan kekerabatan marga - yang diikat menerusi perkawinan dan prinsip Olong Dohot Domu (Kasih Sayang dan Keakraban). Sistem pemerintahan Mandailing demokratis dan egalitar. Lembaga pemerintahan Na Mora Na Toras (Yang Dimuliakan dan Dituakan) memastikan keadilan dan kepemimpinan yang dinamis. Gordang Sambilan adalah gendang adat yang terdiri dari sembilan buah gendang yang relatif besar dan panjang, dan digunakan dalam ucapcara perkawinan, penabalan dan kematian. Sabe-Sabe selendang istiadat dipakai untuk upacara adat dan untuk tarian adat yang disebut Tor-Tor. |